Senin, 10 Januari 2011

My Sister's Keeper

Category:Movies
Genre: Drama
Sara Fitzegerald (Cameron Diaz) awalnya adalah ibu yang bahagia dengan dua orang anak yang lucu, Kate dan Jesse. Kebahagiaan Sara nyaris hancur ketika mengetahui bahwa anak pertamanya - Kate mengidap leukimia. Penyakit ganas ini hanya bisa diobati dengan donor yang cocok. Dan setelah diperiksa, ternyata Sara, Bryan (suami Sara), dan Jesse tidak bisa menjadi donor untuk Kate. Dokterpun menanyakan kepada Sara, apakah ia berencana memiliki anak lagi? Karena jika iya, maka ada kemungkinan Kate bisa diselamatkan. Dokter akan merekayasa DNA anak yang akan dilahirkan tersebut sehingga bisa menjadi donor untuk Kate. Maka tanpa berpikir panjang, Sarapun menyetujui usul Dokter tersebut. Maka lahirlah Anna Fitzegerald yang beberapa jam setelah kelahirannya sudah harus menyumbangkan sel darah tali pusat untuk Kate.

Awalnya memang Anna dibutuhkan untuk mendonor sel darah tali pusat saja. Namun, seiring berjalannya waktu penyakit Kate semakin parah sehingga Anna pun harus menjalani berbagai macam operasi, transfusi darah, sampai mendonorkan sumsum tulang belakangnya agar Kate dapat bertahan hidup. Menginjak usia remaja Anna mulai mempertanyakan tujuan hidupnya. Sampai kapan dia harus menyuplai kebutuhan kakaknya? Sampai suatu hari, Kate dinyatakan terancam gagal ginjal. Sehingga orang tuanya meminta Anna untuk menyumbangkan ginjalnya. Namun kali ini ia menolak permintaan ibunya tersebut dan mengambil keputusan untuk menggugat orang tuanya agar memperoleh hak atas tubuhnya sendiri. Dengan tabungan yang dimilikinya, ia menyewa seorang pengacara bernama Campbell Alexander untuk membantunya. Hal ini tentunya berpengaruh sangat besar pada dirinya, orang tuanya, serta mungkin akan mengancam hilangnya nyawa dari kakak yang sangat disayanginya. Dan Sara yang memang mantan pengacara akhirnya benar-benar harus berhadapan dengan anaknya sendiri di pengadilan, karena sejak awal Sara memang menginginkan agar Anna menolong kakanya dan mau menyumbangkan ginjalnya.

Berhasilkah Anna memperoleh hak atas tubuhnya sendiri? Bagaimanakah akhir cerita yang memang sangat rumit ini? Nonton sendiri ya filmnya. Film yang diangkat dari Novel dengan judul yang sama karya Jodi Picoult. Film yang berhasil membuat saya menangis tanpa henti sepanjang film dan sukses membuat saya menghabiskan banyak tissue... T_T

Film yang membuat saya banyak berpikir, bahwa hidup itu memang tentang pilihan dan dengan pilihan itu kita bisa banyak mempengaruhi hidup orang lain (saya berpikir seperti ini ketika melihat adegan Sara yang memutuskan akan melahirkan seorang anak yang memang sengaja dilahirkan untuk menyembuhkan Kate).
Saya juga berpikir bahwa kadang hidup juga bukan tentang pilihan ketika hidup kita sudah ditentukan jalannya dan kita tidak punya kesempatan untuk memilih (saya berpikir seperti ini ketika melihat adegan Anna kecil yang harus tumbuh dengan keharusan-keharusan menjalani serangkaian operasi untuk menolong kakanya).
Lalu, siapakah yang salah?? Pertanyaan ini selalu muncul di sepanjang saya menonton film ini, tanpa saya bisa menjawabnya. Mungkin sebagian orang akan menyalahkan Sara, tapi dari sudut pandang seorang ibu, Sara tak bisa 100% disalahkan. Ibu mana yang tak ingin menyelamatkan hidup anaknya?
Dan sebagian orang lagi mungkin akan menyalahkan Anna yang terkesan egois karena tak ingin mendonor untuk kakanya. Tapi tentu masalah tidak sesederhana itu, karena dengan keyakinan saya, saya rasa tak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin dilahirkan dengan tujuan agar bagian tubuhnya didonorkan kepada orang lain tanpa sempat ia ditanya apakah ia mau atau tidak.

Film ini memang bukan film baru karena direlease bukan di tahun ini melainkan di tahun 2009. Film dengan ide cerita yang sangat menarik dan para pemain yang berhasil memerankan tokoh-tokoh di dalam film dengan sangat sempurna. Jadi, bagi yang memang belum nonton film ini, buruan cari filmnya ya, cuz film ini touchy sekali. ^^

Selasa, 28 Desember 2010

sedikit curhat... :D


Tadinya sempat berpikir bahwa saya belum membutuhkan yang namanya USB modem, dikarenakan saya merasa sudah cukup puas dengan hanya bisa online via handphone. Toh selama ini aktifitas saya yang berhubungan dengan internet hanyalah sebatas facebookan dan chatting yang tentunya sangat bisa dilakukan oleh handphone Samsung tercinta saya.

Tapi kesini-kesininya, saya mulai merasa kalau saya membutuhkan sebuah USB modem. Diawali dari pentingnya email untuk pekerjaan saya sehingga mengharuskan saya untuk setidaknya membuka dan mengecheck email setiap harinya. Sebenarnya hape yang saya miliki mendukung untuk fasilitas push email. Tapi entah kenapa saya kurang sreg aja untuk membuka email dari handphone (terkecuali untuk keperluan yang mendesak, :D). Mungkin karena layar yang kecil dan karena email yang saya terima kebanyakannya selalu disertai dengan lampiran yang cukup penting untuk saya simpan dalam sistem filing laptop saya.

Dan untuk semua kegiatan yang berhubungan dengan internet baik itu facebookan, chatting, buka email, surfing, searching, googling, dan lain sebagainya tentu akan jauh lebih nyaman apabila dilakukan via PC/laptop daripada via handphone (mobile). Untuk itu saya mulai berpikir untuk memiliki sebuah modem seperti yang banyak teman-teman kantor saya miliki. Mereka memutuskan memiliki USB modem karena kebutuhan akan sambungan internet di mana saja, terutama saat berdinas di luar kota. Sayapun merasa tak ada ruginya saya memiliki sebuah USB modem. Toh saya perlu untuk koneksi internet saya sehari-hari kapan saja di mana saja.

Maka akhirnya saya benar-benar memutuskan membeli sebuah USB modem. Tadinya sempat mengalami kebingungan, mau beli yg GSM atau yg CDMA. Sempat tanya teman yang paham betul dengan urusan yang satu ini dan masukannya benar-benar oke banget. Intinya tergantung dengan kebutuhan. Karena kebutuhan saya akan internet adalah untuk hal-hal yang 'standar' saja (bukan untuk download film atau main game online yang tentu membutuhkan koneksi internet dengan kecepatan yang tinggi) maka akhirnya saya memutuskan untuk membeli modem CDMA saja. Di samping harga modemnya murah (pas banget waktu beli pas harga promo, jadi belinya double murah, hehehe), harga berlangganan per bulannya pun juga murah.

Dan operator CDMA yang saya pilih adalah flexy. Kenapa? Karena secara jaringan, flexy yang merupakan bagian dari Telkom (pemilik jaringan Telekomunikasi paling luas se-Indonesia), tentu (menurut hemat pemikiran saya) merupakan operator CDMA yang paling bagus jaringannya, begitupun dengan koneksi internetnya. Ditambah, flexy menawarkan harga berlangganan yang sangat menggiurkan yakni Rp. 2.500/hari untuk koneksi internet unlimited. Dan akan bertambah murah lagi apabila berlangganan secara mingguan atau bulanan. Bahkan ada paket untuk berlangganan secara triwulan. Tentu dengan biaya yang lebih murah apabila dibandingkan dengan yang harian.

Dan sayapun memilih paket perbulan dengan tarif Rp. 50.000/bulan untuk koneksi internet unlimited. Cukup murah menurut kalkulasi hitung-hitungan saya. Kecepatannya standar. Tertulis 230 kbps. Intinya bisa buka FB, bisa YM-an, bisa buka email (gmail dan ymail), bahkan kadang bisa donlot mp3, hehehe...

Kesimpulannya, bisa dibilang saya tidak menyesal telah membeli modem CDMA ini. Terlebih ketika saya mencobanya di daerah dekat pantai dimana sekarang saya berada (Pagatan), dan ternyata saya berhasil online dengan nyaman walau sebelumnya sempat bingung kerena USB modem nya telah dalam kondisi 'terbaca' di laptop saya tapi tak kunjung bisa untuk dikoneksikan dengan jaringan internet. Ternyata eh ternyata, saya lupa untuk combo flexy ini (flexy saya adalah flexy area Banjarbaru). Maka saya combo terlebih dahulu dan eng ing eng, USB modem connected succesfully dan akhirnya saya bisa online dengan nyamannya sembari menulis notes ini yang entah penting entah tidak. Hanya sekedar ingin sedikit curhat... :D

Pagatan 28122010 22.57

Rabu, 29 September 2010

BLD rubik

BLD rubik atau blind rubik adalah cara mensolving rubik dengan mata ditutup. Tadinya saya enggan sekali belajar BLD rubik ini karena udah kebayang susah dan ribetnya. Padahal beberapa kali, adik saya selalu menawarkan dirinya untuk mengajari saya, tapi dasar sayanya aja yang belum nemu mood yang pas, maka akhirnya belajarnya ditunda-tunda terus.
Dan entah karena angin apa, akhirnya mood yang ditunggu-tunggu pun datang, saya sudah punya yang namanya 'niat' untuk belajar BLD (dimana-mana, niat itu yang paling utama, termasuk untuk belajar solving rubik. :D). Maka, adik sayapun dengan sabar mengajari saya tahap-tahapnya.

1. Tahap pertama (memegang rubik)
Untuk melakukan BLD solving, maka cara memegang rubiknya memiliki ketentuan tersendiri, yakni layer merah berada di depan sedangkan layer kuning berada di atas. Dari awal sampai akhir, megang rubiknya harus seperti itu. Jadi kalau ada yang BLD solving, tapi megang rubiknya diputar-putar arah orientasinya, maka bisa dipastikan kalau orang itu bukan BLD solving, melainkan 'ngintip' solving, hahaha (persis kayak Dedy Corbuzier waktu BLD solving di RCTI (ketauan deh kalau Dedy curang.. :p))

2. Tahap kedua (menotasikan petak edge)
Agar bisa mensolving rubik dengan mata ditutup, maka petak-petak rubik yang ada (yang edge) diberi nama atau notasi. Sebenarnya sih bisa dinotasikan dengan apa aja, tapi saya lebih suka menotasikan nya dengan huruf (abjad). Dimulai dari warna kuning - orange (A -B), kuning - hijau (C - D), dan seterusnya sehingga ada huruf A sampai dengan X.

3. Tahap ketiga (menotasikan petak corner)
Rubik 3x3 atau kubus mempunyai 8 corner dan saya menotasikannya dengan angka dari 1 sampai dengan 8 (kalau adik saya lebih suka menotasikannya dengan nama-nama sepupu, hehehe. Suka-suka aja sih, mana yang gampang aja buat masing-masing)

4. Tahap keempat (memorisasi)
Setelah rubik dalam keadaan teracak, maka yang harus dilakukan pertama kali ketika ingin melakukan BLD, adalah mememorisasi petak-petak yang teracak tersebut. Di sinilah kegunaan notasi-notasi yang telah dibuat sebelumnya. Dengan notasi-notasi itu, kita jadi lebih mudah mengahapal posisi-posisi petak cube yang teracak.

5. Tahap kelima (solving edge)
Setelah memorisasi selesai maka BLD pun siap dilakukan. Pasang penutup mata atau eye shade-nya trus jangan lupa baca bismillah ya... :D. Maka mulailah solving untuk petak edge. Cara solving edge ini memiliki 3 rumus yang mesti dihapal. Dengan 3 rumus ini, kita bisa menyelesaikan/solving edge tanpa merusak posisi corner.

6. Tahap keenam (solving corner)
Setelah solving edge, hal selanjutnya yang harus dilakukan tentu saja adalah solving corner. Untuk solving corner ini, ada 4 rumus yang harus dihapal.

Setelah selesai, maka buka penutup mata atau eye shadesnya. Dan tadaaaaa.... Rubiknya bakalan solving!!!! dengan catatan, memorisasi yang kita lakukan benar, rumus yang kita pakai benar, dan pergerakan solving yang kita lakukan benar. Hihihihi.. Intinya, semuanya harus benar, :p.

Saya belajar BLD, awalnya dengan mata terbuka (tidak langsung dengan mata ditutup). Saya pelajari dulu notasi-notasinya, sambil mempelajari set-up nya, dan sesekali saya sebut notasi-notasi itu dengan suara yang lumayan nyaring, maksudnya biar cepat ingat sama posisi notasi-notasi itu.

Trus saya mulai memberanikan diri solving dengan mata ditutup, tapi cuma berani sampai solving edge-nya aja, dan alhamdulillah berhasil.
Setelah merasa cukup lancar, saya mulai berani solving sampai dengan solving corner. Dan ternyata saya gagal!!!
Ada beberapa posisi edge yang tertukar. Kata adik saya sih, saya salah tembak waktu mau solving edgenya. Huhuhuhu... Saya semakin penasaran. Nyoba lagi dengan memorisasi yang agak lama (maklum, daya ingat dah menurun.. :p).

Daaann eng ing eeennnggg.... Saya BERHASIL!!!!!! Huaa.. senangnyaaaa... sampe ga percaya!! :p
Bahkan waktu setelah solving (untuk kali pertama), saya sampai ga berani buka mata, takut rubik yang saya pegang belum benar solvingnya. :D
Tapi pas buka mata, ternyata rubiknya udah solving dengan sempurna, hiksss... rasanya ada kepuasan tersendiri (terharuu.. :D).
Sedikit banyak saya ketagihan, trus nyoba lagi solving sebelum tidur, dan ternyata BERHASIL lagi, horeee...

Tapi, proses belajar saya ga semulus kelihatannya. Saya mesti ekstra usaha, karena banyak faktor.
Faktor pertama, adalah karena saya perempuan, :D.
Percaya atau tidak, perempuan memiliki kemampuan yang lebih rendah dibanding laki-laki dalam hal menghapal posisi yang berorientasi pada ruang. Untuk itu, saya merasa memang agak susah menghapal posisi-posisi petak rubik, apalagi kalau rubiknya udah mulai diputar-putar T_T
Faktor kedua adalah daya ingat.
Sepertinya daya ingat saya sudah tidak sebagus sepuluh tahun yang lalu, dimana untuk menghapal angka-angka adalah sangat gampang. Hikss.. Dulu, untuk menghitung yang sederhana semisal penjumlahan, saya sama sekali tak membutuhkan kalkulator. Tapi untuk sekarang, sedikit-sedikit, bawaannya pingin pakai kalkulator aja kalau lagi ngitung. T_T

Apalagi untuk solving rubik dengan mata ditutup, semuanya serba dituntut. Daya ingat, refleksifitas, ketenangan, konsentrasi, dan kesabaran harus benar-benar bagus.
Maka waktu di awal-awal belajar BLD, sayapun sempat merasa mual sampai pingin muntah T_T. Mungkin karena waktu awal-awal, saya melakukannya dengan sedikit memaksa (alih-alih cepat belajar BLD, malah sakit kepala deh.. :p).
Adik sayapun waktu awal-awal belajar BLD sempat mengalami hal yang sama, karena yang ngajarin adik saya cara ngajarnya cepat banget. Adik saya seperti dipaksa menelan 'pelajaran' yang banyak dalam waktu yang singkat. Alhasil, waktu pertama kali belajar sama temannya di rumah temannya itu, pulang-pulang dari rumah temannya, adik saya malah kesasar, ga ingat sama jalan pulang (saking pusingnya habis belajar BLD, xixixixi).
Makanya waktu adik saya ngajarin saya, dia berusaha sesabar dan selambat mungkin, biar sayanya bisa adaptasi. Tapi dasarnya saya yang terlalu memaksakan diri, akhirnya malah sampai mual dan pingin muntah, hehehehe...
Kemampuan orang memang beda-beda, teman adik saya ada yang bisa BLD hanya dalam waktu 1 hari, ckckckck.. jenius banget ya.. :p

But, eniwei, saya cukup puas bisa BLD, tinggal ngelancarin beberapa rumus (musti latihan terus), moga-moga nanti BLDnya bisa lancar. Kalau udah lancar, pasti bakalan menyenangkan, bisa main sekaligus melatih otak tengah. ^^

Rabu, 25 Agustus 2010

TAHFIZUL QURANUL QARIM

Alhamdulillah kemarin berkesempatan dinas lagi, kali ini dalam rangka pemantauan lingkungan Proyek SUTT.

Seperti biasa, banyak pengalaman yang diperoleh yang dapat dijadikan pelajaran yang berharga. Saking banyaknya bingung mau ditulis (baca: dishare) yang mana via notes kali ini.
Untuk sementara, yang bisa saya tulis adalah sebagian 'hal' yang saya tak menyangka akan menemuinya yang membuat saya menjadi kagum akannya.


Persisnya, pada hari kedua dinas, rute yang akan kami tempuh adalah menyusuri jalur SUTT Asam-Asam - Mantuil section 7 s.d 13 (atau tepatnya daerah Pelaihari s.d Mantuil). Pada saat berada di daerah Gambut atau tepatnya di desa Guntung Ujung, saya menemukan sebuah tempat yang membuat saya terheran-heran namun justru kagum luar biasa (sampai susah mengungkapkannya dalam bentuk kata-kata).


Ketika itu, saya dan teman kantor saya menuju titik tower T.271 yang berdekatan dengan rumah warga (memang sengaja dicari titik tower yang dekat dengan rumah warga, agar bisa dimintakan pendapat dari warga yang rumahnya terkena jalur transmisi, apakah ada keluhan dan lain sebagainya, yang nantinya akan kami tampung untuk dijadikan bahan kajian bagi kami untuk kedepannya - namanya juga pemantauan lingkungan).


Nah, untuk T.271 ini, permukiman warga yang berada dekat dengan titik tower terasa sedikit berbeda deangan permukiman yang lain. Di situ terdapat beberapa bangunan yang terdiri dari beberapa petak kamar (dari luar sih nampak seperti itu), sebidang tempat parkir dan sebuah mushala. Setelah saya amati, ternyata itu adalah sebuah pesantren khusus laki-laki. Pesantren dengan ukuran yang sangat kecil sekali (mengingat selama ini yang saya kenal, sebuah pesantren adalah tempat luas yang menampung puluhan bahkan ratusan santri).


Dan setelah teman kantor saya (Eko) mengajak bicara salah satu santri di situ yang ternyata bernama Abdul Wahid, kamipun akhirnya mengetahui bahwa pesantren tersebut memang baru dibangun oleh H. Suni yang berasal dari Martapura. Sengaja dibangun untuk kalangan terbatas yaitu terbatas hanya pada anggota keluarga saja. Makanya pesantrennya dibuat dengan skala kecil, yang ternyata menampung 20 orang santri saja.


Teman kantor saya (termasuk saya) cukup heran juga, mengapa pesantren dibangun di tempat seterpencil itu (kalau bukan karena dinas, tentu saya tak akan pergi ke titik tower T.271, dan kalau saya tak pergi ke T.271 mungkin saya tak akan tau kalau di situ ternyata ada sebuah pesantren kecil yang asri). Tapi 'keheranan' saya terjawabkan oleh penjelasan Wahid, bahwa tempat terpencil memang sengaja dipilih untuk memudahkan mereka dalam menghapal Al Quran. Karena tujuan pesantren ini adalah untuk menghasilkan para penghapal Al Quran, sesuai dengan nama pesantrennya yaitu PESANTREN TAHFIZUL QURANUL QARIM.

Subhanallah... Sungguh saya terpana (masih bingung memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan 'kekaguman' saya). Saya merasa campur aduk setelah mengetahui bahwa di tempat seterpencil itu, ada sekelompok manusia yang sengaja menjauh dari keramaian kota (baca: duniawi) demi untuk menghapal kitab suci Al Quran. Sungguh campur aduk. Ada kagum, ada bahagia, ada haru, ada malu pada diri sendiri, ada perasaan yang benar-benar tidak bisa saya ungkapkan sampai dengan sekarang.


Berharap akan ada lebih banyak lagi tempat-tempat seperti itu yang akan menghasilkan lebih banyak lagi penghapal Al Quran di bumi Kalimantan Selatan saya yang tercinta ini.. :)

Jumat, 06 Agustus 2010

Menghargai (2)

Beberapa hari yang lalu saya didinaskan oleh kantor tempat saya bekerja untuk membantu tim pembebasan tanah proyek SUTT 150 kV AA-BL untuk bernegoisasi dengan warga di suatu kecamatan yang kebetulan dilalui oleh jalur transmisi tersebut. Saya sih cuma bantu ngetik-ngetik saja bikin berita acara, sementara yang bernegoisasi adalah Bapak senior di kantor yang memang sudah terbiasa bernegosiasi.

Terus terang sy senang dengan dinas kali ini karena ini benar-benar merupakan pengalaman pertama (dan berharga) bagi saya untuk bisa berinteraksi langsung dengan warga yang tanahnya akan dibangun tapak tower. Tadinya sy cuma dengar-dengar cerita saja dari teman-teman di kantor bagaimana susah dan senangnya (tapi kebanyakan susahnya sih :D) dalam bernegoisasi dengan warga. Kebanyakan dari warga biasanya banyak yang mempersulit dengan tidak mau menjual tanah mereka. Sebenarnya itu sangat wajar dan 100% merupakan hak mereka, tapi kadang yang membuat sy tak habis pikir adalah cara mereka menyatakan ketidakmauan mereka saja. Ada yang pake acara lempar piring di ruang pertemuan bahkan ada yang bawa golok segala. Hmm.. Sepertinya bukan seperti itu cara mengeluarkan pendapat yang benar dalam sebuah forum pertemuan. Tapi mau bagaimana lagi? Seperti itulah kenyataan yang banyak ditemui.

Dan setelah sampai di hari di mana pertemuan akan berlangsung di kantor kecamatan setempat, para warga yang tanah nya terkena tapak tower pun sudah berkumpul lengkap dengan kepala desa dan sekretaris camat (pengganti Camat karena beliau sedang tidak berada di tempat). Pertemuan pun dibuka dengan sangat baik oleh SekCam. SekCam nya humoris, jadi suasana tidak terlalu tegang. Setelah itu barulah Bapak2 dari kantor saya menjelaskan apa itu jaringan SUTT, dan mengapa jaringan SUTT itu perlu dibangun, yang tentu saja tak lain dan tak bukan adalah untuk menjaga keandalan listrik yang berujung meningkatkan pelayanan pada masyarakat terhadap ketersediaan listrik. Tak hanya sampai di situ, Bapak2 tersebut juga menjelaskan pembangunan SUTT tersebut dari segi teknis yang berhubungan dengan safety nya terhadap warga yang nantinya tinggal di sekitar area tower.

Semua berjalan lancar sampai dengan proses negoisasi dimulai. Yang namanya negoisasi tentu saja adalah tawar menawar antara pemilik tanah dengan pembeli. Sebagai pembeli, kami menawar dengan harga A/m2 (sesuai dengan APBN untuk proyek ini) yang tentu saja secara tidak mengejutkan ditolak oleh warga. Mereka menginginkan harga B/m2 (dimana B = A + Rp. 190.000,-). Dan dengan bahasa yang diusahakan sehalus mungkin, Bapak2 dari kantor sy menjelaskan bahwa harga B tersebut tidak bisa disetujui, karena dari APBN nya memang sudah dianggarkan dengan harga A, tak ada alasan yang bisa membuatnya berubah. Warga kembali mencoba bernegosiasi - hal yang membuat saya merasa banyak sekali belajar. Di sini lah suatu forum benar-benar dihormati. Kedua belah pihak saling mengeluarkan pendapat di kepala mereka masing-masing dan keduanya sama-sama saling menghargai. Paling-paling hanya satu dua orang saja yang terkadang protes dengan nada yang agak tinggi, yang di telinga saya lebih terdengar seperti bercanda. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pemimpin rapat (SekCam) yang bagus sekali dalam memimpin forum ini. Beliau berkali-kali menekankan bahwa, kalau warga mau mengeluarkan pendapat maka keluarkan saja di forum, semua pendapat akan dihargai. Sedangkan pendapat yang muncul belakangan di luar forum akan tidak ada harganya sama sekali.

Maka muncullah harga baru dari warga yaitu C/m2 (dimana C = B - Rp. 50.000,-). Dan dengan pendekatan yang lebih baik lagi, kembali Bapak2 dari kantor sy menjelaskan bahwa mereka hanya bisa memberikan harga A. Kali ini ada penjelasan tambahan dari Bapak2 dari kantor sy. Mereka menceritakan satu kasus, pengalaman dari provinsi sebelah, di mana semua pihak yang terkait (warga, aparat desa, kecamatan, dan pegawai BUMN yang bertugas negoisasi) akhirnya dipenjara karena membeli tanah warga dengan harga yang lebih tinggi dari yang dianggarkan. Hal ini dicurigai adanya praktik korupsi dengan menjual tanah melebihi yang dianggarkan di APBN.
Sungguh, sy yakin Bapak2 dari kantor sy bukan bermaksud menakut-nakuti tetapi hanya memberikan gambaran mengapa mereka sama sekali tidak bisa menaikkan harga dari harga A. Dan Alhamdulillah, para warga mau berbesar hati menerima angka A. Dan akhirnya dicapailah kata 'deal' untuk harga jual tanah di kecamatan tersebut sebesar A.

Maka proses negoisasi pun berlanjut ke negoisasi harga ganti rugi untuk tanam tumbuh tumbuhan yang tanahnya nanti akan dibangun tower. Untuk ini Bapak2 dari kantor saya mengacu pada harga ganti rugi yang dikeluarkan oleh DisBun kabupaten setempat. Dan kebetulan tanaman yang banyak tumbuh di daerah tersebut adalah karet. Untuk karet harga ganti ruginya menurut DisBun adalah sebesar X/pohon. Dan warga kali ini merasa keberatan sekali dengan harga tersebut. Menurut mereka harga tersebut sangat jauh dari harga yang pantas. Kebetulan di daerah tersebut juga ada perusahaan yang menambang batu bara. Dan perusahaan tambang tersebut berani mengganti rugi pohon karet yang mereka hancurkan sebesar Y/pohon (dimana Y = X + Rp.525.000,-).
Bapak2 dari kantor saya pun kembali menjelaskan bahwa mereka tak bisa sembarang menaikkan harga kalau tidak ada dasarnya. Dan warga tetap pada harga Y tersebut, sehingga untuk harga ganti rugi tanam tumbuh belum dicapai kata sepakat.

But well.. Ini semua benar-benar melebihi harapan kami. Tadinya kami pikir kami bakalan harus negoisasi lagi (dalam waktu yang dekat) apabila kata sepakat dalam forum tadi tidak dicapai. Tapi kami sungguh bisa tersenyum puas dengan hasil yang bisa dikatakan 'bagus'. Sepertinya warga di kecamatan itu paham benar dengan arti membangun fasilitas untuk kebaikan orang banyak. Sedikit perbedaan pendapat saya kira wajar. Bapak2 dari kantor sy tentu akan mencarikan jalan keluar yang terbaik.

Dari sini sy belajar banyak. Belajar tentang bagaimana sebuah proses negoisasi langsung dengan warga. Belajar tentang bagaimana mendengarkan, mengeluarkan, dan menghargai pendapat orang lain. Dan yang terakhir, sy benar-benar menghargai sebuah profesi. Profesi yang dulunya pernah saya remehkan (mungkin yang saya remehkan adalah orang-orang yang memiliki profesi itu yang terlanjur memberi cap buruk pada profesi yang sebenarnya menjadi cita-cita saya). Ternyata tidak semua dari mereka tidak berdedikasi. Masih banyak dari mereka yang ternyata berkualitas dan sangat berdedikasi.

Dan Alhamdulillah, perjalanan dinas kali ini berjalan lancar. Banyak pelajaran berharga yg bisa sy dapat. :)

06082010 23.09 WITA