BLD rubik atau blind rubik adalah cara mensolving rubik dengan mata ditutup. Tadinya saya enggan sekali belajar BLD rubik ini karena udah kebayang susah dan ribetnya. Padahal beberapa kali, adik saya selalu menawarkan dirinya untuk mengajari saya, tapi dasar sayanya aja yang belum nemu mood yang pas, maka akhirnya belajarnya ditunda-tunda terus.
Dan entah karena angin apa, akhirnya mood yang ditunggu-tunggu pun datang, saya sudah punya yang namanya 'niat' untuk belajar BLD (dimana-mana, niat itu yang paling utama, termasuk untuk belajar solving rubik. :D). Maka, adik sayapun dengan sabar mengajari saya tahap-tahapnya.
1. Tahap pertama (memegang rubik)
Untuk melakukan BLD solving, maka cara memegang rubiknya memiliki ketentuan tersendiri, yakni layer merah berada di depan sedangkan layer kuning berada di atas. Dari awal sampai akhir, megang rubiknya harus seperti itu. Jadi kalau ada yang BLD solving, tapi megang rubiknya diputar-putar arah orientasinya, maka bisa dipastikan kalau orang itu bukan BLD solving, melainkan 'ngintip' solving, hahaha (persis kayak Dedy Corbuzier waktu BLD solving di RCTI (ketauan deh kalau Dedy curang.. :p))
2. Tahap kedua (menotasikan petak edge)
Agar bisa mensolving rubik dengan mata ditutup, maka petak-petak rubik yang ada (yang edge) diberi nama atau notasi. Sebenarnya sih bisa dinotasikan dengan apa aja, tapi saya lebih suka menotasikan nya dengan huruf (abjad). Dimulai dari warna kuning - orange (A -B), kuning - hijau (C - D), dan seterusnya sehingga ada huruf A sampai dengan X.
3. Tahap ketiga (menotasikan petak corner)
Rubik 3x3 atau kubus mempunyai 8 corner dan saya menotasikannya dengan angka dari 1 sampai dengan 8 (kalau adik saya lebih suka menotasikannya dengan nama-nama sepupu, hehehe. Suka-suka aja sih, mana yang gampang aja buat masing-masing)
4. Tahap keempat (memorisasi)
Setelah rubik dalam keadaan teracak, maka yang harus dilakukan pertama kali ketika ingin melakukan BLD, adalah mememorisasi petak-petak yang teracak tersebut. Di sinilah kegunaan notasi-notasi yang telah dibuat sebelumnya. Dengan notasi-notasi itu, kita jadi lebih mudah mengahapal posisi-posisi petak cube yang teracak.
5. Tahap kelima (solving edge)
Setelah memorisasi selesai maka BLD pun siap dilakukan. Pasang penutup mata atau eye shade-nya trus jangan lupa baca bismillah ya... :D. Maka mulailah solving untuk petak edge. Cara solving edge ini memiliki 3 rumus yang mesti dihapal. Dengan 3 rumus ini, kita bisa menyelesaikan/solving edge tanpa merusak posisi corner.
6. Tahap keenam (solving corner)
Setelah solving edge, hal selanjutnya yang harus dilakukan tentu saja adalah solving corner. Untuk solving corner ini, ada 4 rumus yang harus dihapal.
Setelah selesai, maka buka penutup mata atau eye shadesnya. Dan tadaaaaa.... Rubiknya bakalan solving!!!! dengan catatan, memorisasi yang kita lakukan benar, rumus yang kita pakai benar, dan pergerakan solving yang kita lakukan benar. Hihihihi.. Intinya, semuanya harus benar, :p.
Saya belajar BLD, awalnya dengan mata terbuka (tidak langsung dengan mata ditutup). Saya pelajari dulu notasi-notasinya, sambil mempelajari set-up nya, dan sesekali saya sebut notasi-notasi itu dengan suara yang lumayan nyaring, maksudnya biar cepat ingat sama posisi notasi-notasi itu.
Trus saya mulai memberanikan diri solving dengan mata ditutup, tapi cuma berani sampai solving edge-nya aja, dan alhamdulillah berhasil.
Setelah merasa cukup lancar, saya mulai berani solving sampai dengan solving corner. Dan ternyata saya gagal!!!
Ada beberapa posisi edge yang tertukar. Kata adik saya sih, saya salah tembak waktu mau solving edgenya. Huhuhuhu... Saya semakin penasaran. Nyoba lagi dengan memorisasi yang agak lama (maklum, daya ingat dah menurun.. :p).
Daaann eng ing eeennnggg.... Saya BERHASIL!!!!!! Huaa.. senangnyaaaa... sampe ga percaya!! :p
Bahkan waktu setelah solving (untuk kali pertama), saya sampai ga berani buka mata, takut rubik yang saya pegang belum benar solvingnya. :D
Tapi pas buka mata, ternyata rubiknya udah solving dengan sempurna, hiksss... rasanya ada kepuasan tersendiri (terharuu.. :D).
Sedikit banyak saya ketagihan, trus nyoba lagi solving sebelum tidur, dan ternyata BERHASIL lagi, horeee...
Tapi, proses belajar saya ga semulus kelihatannya. Saya mesti ekstra usaha, karena banyak faktor.
Faktor pertama, adalah karena saya perempuan, :D.
Percaya atau tidak, perempuan memiliki kemampuan yang lebih rendah dibanding laki-laki dalam hal menghapal posisi yang berorientasi pada ruang. Untuk itu, saya merasa memang agak susah menghapal posisi-posisi petak rubik, apalagi kalau rubiknya udah mulai diputar-putar T_T
Faktor kedua adalah daya ingat.
Sepertinya daya ingat saya sudah tidak sebagus sepuluh tahun yang lalu, dimana untuk menghapal angka-angka adalah sangat gampang. Hikss.. Dulu, untuk menghitung yang sederhana semisal penjumlahan, saya sama sekali tak membutuhkan kalkulator. Tapi untuk sekarang, sedikit-sedikit, bawaannya pingin pakai kalkulator aja kalau lagi ngitung. T_T
Apalagi untuk solving rubik dengan mata ditutup, semuanya serba dituntut. Daya ingat, refleksifitas, ketenangan, konsentrasi, dan kesabaran harus benar-benar bagus.
Maka waktu di awal-awal belajar BLD, sayapun sempat merasa mual sampai pingin muntah T_T. Mungkin karena waktu awal-awal, saya melakukannya dengan sedikit memaksa (alih-alih cepat belajar BLD, malah sakit kepala deh.. :p).
Adik sayapun waktu awal-awal belajar BLD sempat mengalami hal yang sama, karena yang ngajarin adik saya cara ngajarnya cepat banget. Adik saya seperti dipaksa menelan 'pelajaran' yang banyak dalam waktu yang singkat. Alhasil, waktu pertama kali belajar sama temannya di rumah temannya itu, pulang-pulang dari rumah temannya, adik saya malah kesasar, ga ingat sama jalan pulang (saking pusingnya habis belajar BLD, xixixixi).
Makanya waktu adik saya ngajarin saya, dia berusaha sesabar dan selambat mungkin, biar sayanya bisa adaptasi. Tapi dasarnya saya yang terlalu memaksakan diri, akhirnya malah sampai mual dan pingin muntah, hehehehe...
Kemampuan orang memang beda-beda, teman adik saya ada yang bisa BLD hanya dalam waktu 1 hari, ckckckck.. jenius banget ya.. :p
But, eniwei, saya cukup puas bisa BLD, tinggal ngelancarin beberapa rumus (musti latihan terus), moga-moga nanti BLDnya bisa lancar. Kalau udah lancar, pasti bakalan menyenangkan, bisa main sekaligus melatih otak tengah. ^^
Rabu, 29 September 2010
Rabu, 25 Agustus 2010
TAHFIZUL QURANUL QARIM
Alhamdulillah kemarin berkesempatan dinas lagi, kali ini dalam rangka pemantauan lingkungan Proyek SUTT.
Seperti biasa, banyak pengalaman yang diperoleh yang dapat dijadikan pelajaran yang berharga. Saking banyaknya bingung mau ditulis (baca: dishare) yang mana via notes kali ini.
Untuk sementara, yang bisa saya tulis adalah sebagian 'hal' yang saya tak menyangka akan menemuinya yang membuat saya menjadi kagum akannya.
Persisnya, pada hari kedua dinas, rute yang akan kami tempuh adalah menyusuri jalur SUTT Asam-Asam - Mantuil section 7 s.d 13 (atau tepatnya daerah Pelaihari s.d Mantuil). Pada saat berada di daerah Gambut atau tepatnya di desa Guntung Ujung, saya menemukan sebuah tempat yang membuat saya terheran-heran namun justru kagum luar biasa (sampai susah mengungkapkannya dalam bentuk kata-kata).
Ketika itu, saya dan teman kantor saya menuju titik tower T.271 yang berdekatan dengan rumah warga (memang sengaja dicari titik tower yang dekat dengan rumah warga, agar bisa dimintakan pendapat dari warga yang rumahnya terkena jalur transmisi, apakah ada keluhan dan lain sebagainya, yang nantinya akan kami tampung untuk dijadikan bahan kajian bagi kami untuk kedepannya - namanya juga pemantauan lingkungan).
Nah, untuk T.271 ini, permukiman warga yang berada dekat dengan titik tower terasa sedikit berbeda deangan permukiman yang lain. Di situ terdapat beberapa bangunan yang terdiri dari beberapa petak kamar (dari luar sih nampak seperti itu), sebidang tempat parkir dan sebuah mushala. Setelah saya amati, ternyata itu adalah sebuah pesantren khusus laki-laki. Pesantren dengan ukuran yang sangat kecil sekali (mengingat selama ini yang saya kenal, sebuah pesantren adalah tempat luas yang menampung puluhan bahkan ratusan santri).
Dan setelah teman kantor saya (Eko) mengajak bicara salah satu santri di situ yang ternyata bernama Abdul Wahid, kamipun akhirnya mengetahui bahwa pesantren tersebut memang baru dibangun oleh H. Suni yang berasal dari Martapura. Sengaja dibangun untuk kalangan terbatas yaitu terbatas hanya pada anggota keluarga saja. Makanya pesantrennya dibuat dengan skala kecil, yang ternyata menampung 20 orang santri saja.
Teman kantor saya (termasuk saya) cukup heran juga, mengapa pesantren dibangun di tempat seterpencil itu (kalau bukan karena dinas, tentu saya tak akan pergi ke titik tower T.271, dan kalau saya tak pergi ke T.271 mungkin saya tak akan tau kalau di situ ternyata ada sebuah pesantren kecil yang asri). Tapi 'keheranan' saya terjawabkan oleh penjelasan Wahid, bahwa tempat terpencil memang sengaja dipilih untuk memudahkan mereka dalam menghapal Al Quran. Karena tujuan pesantren ini adalah untuk menghasilkan para penghapal Al Quran, sesuai dengan nama pesantrennya yaitu PESANTREN TAHFIZUL QURANUL QARIM.
Subhanallah... Sungguh saya terpana (masih bingung memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan 'kekaguman' saya). Saya merasa campur aduk setelah mengetahui bahwa di tempat seterpencil itu, ada sekelompok manusia yang sengaja menjauh dari keramaian kota (baca: duniawi) demi untuk menghapal kitab suci Al Quran. Sungguh campur aduk. Ada kagum, ada bahagia, ada haru, ada malu pada diri sendiri, ada perasaan yang benar-benar tidak bisa saya ungkapkan sampai dengan sekarang.
Berharap akan ada lebih banyak lagi tempat-tempat seperti itu yang akan menghasilkan lebih banyak lagi penghapal Al Quran di bumi Kalimantan Selatan saya yang tercinta ini.. :)
Seperti biasa, banyak pengalaman yang diperoleh yang dapat dijadikan pelajaran yang berharga. Saking banyaknya bingung mau ditulis (baca: dishare) yang mana via notes kali ini.
Untuk sementara, yang bisa saya tulis adalah sebagian 'hal' yang saya tak menyangka akan menemuinya yang membuat saya menjadi kagum akannya.
Persisnya, pada hari kedua dinas, rute yang akan kami tempuh adalah menyusuri jalur SUTT Asam-Asam - Mantuil section 7 s.d 13 (atau tepatnya daerah Pelaihari s.d Mantuil). Pada saat berada di daerah Gambut atau tepatnya di desa Guntung Ujung, saya menemukan sebuah tempat yang membuat saya terheran-heran namun justru kagum luar biasa (sampai susah mengungkapkannya dalam bentuk kata-kata).
Ketika itu, saya dan teman kantor saya menuju titik tower T.271 yang berdekatan dengan rumah warga (memang sengaja dicari titik tower yang dekat dengan rumah warga, agar bisa dimintakan pendapat dari warga yang rumahnya terkena jalur transmisi, apakah ada keluhan dan lain sebagainya, yang nantinya akan kami tampung untuk dijadikan bahan kajian bagi kami untuk kedepannya - namanya juga pemantauan lingkungan).
Nah, untuk T.271 ini, permukiman warga yang berada dekat dengan titik tower terasa sedikit berbeda deangan permukiman yang lain. Di situ terdapat beberapa bangunan yang terdiri dari beberapa petak kamar (dari luar sih nampak seperti itu), sebidang tempat parkir dan sebuah mushala. Setelah saya amati, ternyata itu adalah sebuah pesantren khusus laki-laki. Pesantren dengan ukuran yang sangat kecil sekali (mengingat selama ini yang saya kenal, sebuah pesantren adalah tempat luas yang menampung puluhan bahkan ratusan santri).
Dan setelah teman kantor saya (Eko) mengajak bicara salah satu santri di situ yang ternyata bernama Abdul Wahid, kamipun akhirnya mengetahui bahwa pesantren tersebut memang baru dibangun oleh H. Suni yang berasal dari Martapura. Sengaja dibangun untuk kalangan terbatas yaitu terbatas hanya pada anggota keluarga saja. Makanya pesantrennya dibuat dengan skala kecil, yang ternyata menampung 20 orang santri saja.
Teman kantor saya (termasuk saya) cukup heran juga, mengapa pesantren dibangun di tempat seterpencil itu (kalau bukan karena dinas, tentu saya tak akan pergi ke titik tower T.271, dan kalau saya tak pergi ke T.271 mungkin saya tak akan tau kalau di situ ternyata ada sebuah pesantren kecil yang asri). Tapi 'keheranan' saya terjawabkan oleh penjelasan Wahid, bahwa tempat terpencil memang sengaja dipilih untuk memudahkan mereka dalam menghapal Al Quran. Karena tujuan pesantren ini adalah untuk menghasilkan para penghapal Al Quran, sesuai dengan nama pesantrennya yaitu PESANTREN TAHFIZUL QURANUL QARIM.
Subhanallah... Sungguh saya terpana (masih bingung memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan 'kekaguman' saya). Saya merasa campur aduk setelah mengetahui bahwa di tempat seterpencil itu, ada sekelompok manusia yang sengaja menjauh dari keramaian kota (baca: duniawi) demi untuk menghapal kitab suci Al Quran. Sungguh campur aduk. Ada kagum, ada bahagia, ada haru, ada malu pada diri sendiri, ada perasaan yang benar-benar tidak bisa saya ungkapkan sampai dengan sekarang.
Berharap akan ada lebih banyak lagi tempat-tempat seperti itu yang akan menghasilkan lebih banyak lagi penghapal Al Quran di bumi Kalimantan Selatan saya yang tercinta ini.. :)
Jumat, 06 Agustus 2010
Menghargai (2)
Beberapa hari yang lalu saya didinaskan oleh kantor tempat saya
bekerja untuk membantu tim pembebasan tanah proyek SUTT 150 kV
AA-BL untuk bernegoisasi dengan warga di suatu kecamatan
yang kebetulan dilalui oleh jalur transmisi tersebut. Saya sih cuma
bantu ngetik-ngetik saja bikin berita acara, sementara yang bernegoisasi
adalah Bapak senior di kantor yang memang sudah terbiasa bernegosiasi.
Terus terang sy senang dengan dinas kali ini karena ini benar-benar merupakan pengalaman pertama (dan berharga) bagi saya untuk bisa berinteraksi langsung dengan warga yang tanahnya akan dibangun tapak tower. Tadinya sy cuma dengar-dengar cerita saja dari teman-teman di kantor bagaimana susah dan senangnya (tapi kebanyakan susahnya sih :D) dalam bernegoisasi dengan warga. Kebanyakan dari warga biasanya banyak yang mempersulit dengan tidak mau menjual tanah mereka. Sebenarnya itu sangat wajar dan 100% merupakan hak mereka, tapi kadang yang membuat sy tak habis pikir adalah cara mereka menyatakan ketidakmauan mereka saja. Ada yang pake acara lempar piring di ruang pertemuan bahkan ada yang bawa golok segala. Hmm.. Sepertinya bukan seperti itu cara mengeluarkan pendapat yang benar dalam sebuah forum pertemuan. Tapi mau bagaimana lagi? Seperti itulah kenyataan yang banyak ditemui.
Dan setelah sampai di hari di mana pertemuan akan berlangsung di kantor kecamatan setempat, para warga yang tanah nya terkena tapak tower pun sudah berkumpul lengkap dengan kepala desa dan sekretaris camat (pengganti Camat karena beliau sedang tidak berada di tempat). Pertemuan pun dibuka dengan sangat baik oleh SekCam. SekCam nya humoris, jadi suasana tidak terlalu tegang. Setelah itu barulah Bapak2 dari kantor saya menjelaskan apa itu jaringan SUTT, dan mengapa jaringan SUTT itu perlu dibangun, yang tentu saja tak lain dan tak bukan adalah untuk menjaga keandalan listrik yang berujung meningkatkan pelayanan pada masyarakat terhadap ketersediaan listrik. Tak hanya sampai di situ, Bapak2 tersebut juga menjelaskan pembangunan SUTT tersebut dari segi teknis yang berhubungan dengan safety nya terhadap warga yang nantinya tinggal di sekitar area tower.
Semua berjalan lancar sampai dengan proses negoisasi dimulai. Yang namanya negoisasi tentu saja adalah tawar menawar antara pemilik tanah dengan pembeli. Sebagai pembeli, kami menawar dengan harga A/m2 (sesuai dengan APBN untuk proyek ini) yang tentu saja secara tidak mengejutkan ditolak oleh warga. Mereka menginginkan harga B/m2 (dimana B = A + Rp. 190.000,-). Dan dengan bahasa yang diusahakan sehalus mungkin, Bapak2 dari kantor sy menjelaskan bahwa harga B tersebut tidak bisa disetujui, karena dari APBN nya memang sudah dianggarkan dengan harga A, tak ada alasan yang bisa membuatnya berubah. Warga kembali mencoba bernegosiasi - hal yang membuat saya merasa banyak sekali belajar. Di sini lah suatu forum benar-benar dihormati. Kedua belah pihak saling mengeluarkan pendapat di kepala mereka masing-masing dan keduanya sama-sama saling menghargai. Paling-paling hanya satu dua orang saja yang terkadang protes dengan nada yang agak tinggi, yang di telinga saya lebih terdengar seperti bercanda. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pemimpin rapat (SekCam) yang bagus sekali dalam memimpin forum ini. Beliau berkali-kali menekankan bahwa, kalau warga mau mengeluarkan pendapat maka keluarkan saja di forum, semua pendapat akan dihargai. Sedangkan pendapat yang muncul belakangan di luar forum akan tidak ada harganya sama sekali.
Maka muncullah harga baru dari warga yaitu C/m2 (dimana C = B - Rp. 50.000,-). Dan dengan pendekatan yang lebih baik lagi, kembali Bapak2 dari kantor sy menjelaskan bahwa mereka hanya bisa memberikan harga A. Kali ini ada penjelasan tambahan dari Bapak2 dari kantor sy. Mereka menceritakan satu kasus, pengalaman dari provinsi sebelah, di mana semua pihak yang terkait (warga, aparat desa, kecamatan, dan pegawai BUMN yang bertugas negoisasi) akhirnya dipenjara karena membeli tanah warga dengan harga yang lebih tinggi dari yang dianggarkan. Hal ini dicurigai adanya praktik korupsi dengan menjual tanah melebihi yang dianggarkan di APBN.
Sungguh, sy yakin Bapak2 dari kantor sy bukan bermaksud menakut-nakuti tetapi hanya memberikan gambaran mengapa mereka sama sekali tidak bisa menaikkan harga dari harga A. Dan Alhamdulillah, para warga mau berbesar hati menerima angka A. Dan akhirnya dicapailah kata 'deal' untuk harga jual tanah di kecamatan tersebut sebesar A.
Maka proses negoisasi pun berlanjut ke negoisasi harga ganti rugi untuk tanam tumbuh tumbuhan yang tanahnya nanti akan dibangun tower. Untuk ini Bapak2 dari kantor saya mengacu pada harga ganti rugi yang dikeluarkan oleh DisBun kabupaten setempat. Dan kebetulan tanaman yang banyak tumbuh di daerah tersebut adalah karet. Untuk karet harga ganti ruginya menurut DisBun adalah sebesar X/pohon. Dan warga kali ini merasa keberatan sekali dengan harga tersebut. Menurut mereka harga tersebut sangat jauh dari harga yang pantas. Kebetulan di daerah tersebut juga ada perusahaan yang menambang batu bara. Dan perusahaan tambang tersebut berani mengganti rugi pohon karet yang mereka hancurkan sebesar Y/pohon (dimana Y = X + Rp.525.000,-).
Bapak2 dari kantor saya pun kembali menjelaskan bahwa mereka tak bisa sembarang menaikkan harga kalau tidak ada dasarnya. Dan warga tetap pada harga Y tersebut, sehingga untuk harga ganti rugi tanam tumbuh belum dicapai kata sepakat.
But well.. Ini semua benar-benar melebihi harapan kami. Tadinya kami pikir kami bakalan harus negoisasi lagi (dalam waktu yang dekat) apabila kata sepakat dalam forum tadi tidak dicapai. Tapi kami sungguh bisa tersenyum puas dengan hasil yang bisa dikatakan 'bagus'. Sepertinya warga di kecamatan itu paham benar dengan arti membangun fasilitas untuk kebaikan orang banyak. Sedikit perbedaan pendapat saya kira wajar. Bapak2 dari kantor sy tentu akan mencarikan jalan keluar yang terbaik.
Dari sini sy belajar banyak. Belajar tentang bagaimana sebuah proses negoisasi langsung dengan warga. Belajar tentang bagaimana mendengarkan, mengeluarkan, dan menghargai pendapat orang lain. Dan yang terakhir, sy benar-benar menghargai sebuah profesi. Profesi yang dulunya pernah saya remehkan (mungkin yang saya remehkan adalah orang-orang yang memiliki profesi itu yang terlanjur memberi cap buruk pada profesi yang sebenarnya menjadi cita-cita saya). Ternyata tidak semua dari mereka tidak berdedikasi. Masih banyak dari mereka yang ternyata berkualitas dan sangat berdedikasi.
Dan Alhamdulillah, perjalanan dinas kali ini berjalan lancar. Banyak pelajaran berharga yg bisa sy dapat. :)
06082010 23.09 WITA
Terus terang sy senang dengan dinas kali ini karena ini benar-benar merupakan pengalaman pertama (dan berharga) bagi saya untuk bisa berinteraksi langsung dengan warga yang tanahnya akan dibangun tapak tower. Tadinya sy cuma dengar-dengar cerita saja dari teman-teman di kantor bagaimana susah dan senangnya (tapi kebanyakan susahnya sih :D) dalam bernegoisasi dengan warga. Kebanyakan dari warga biasanya banyak yang mempersulit dengan tidak mau menjual tanah mereka. Sebenarnya itu sangat wajar dan 100% merupakan hak mereka, tapi kadang yang membuat sy tak habis pikir adalah cara mereka menyatakan ketidakmauan mereka saja. Ada yang pake acara lempar piring di ruang pertemuan bahkan ada yang bawa golok segala. Hmm.. Sepertinya bukan seperti itu cara mengeluarkan pendapat yang benar dalam sebuah forum pertemuan. Tapi mau bagaimana lagi? Seperti itulah kenyataan yang banyak ditemui.
Dan setelah sampai di hari di mana pertemuan akan berlangsung di kantor kecamatan setempat, para warga yang tanah nya terkena tapak tower pun sudah berkumpul lengkap dengan kepala desa dan sekretaris camat (pengganti Camat karena beliau sedang tidak berada di tempat). Pertemuan pun dibuka dengan sangat baik oleh SekCam. SekCam nya humoris, jadi suasana tidak terlalu tegang. Setelah itu barulah Bapak2 dari kantor saya menjelaskan apa itu jaringan SUTT, dan mengapa jaringan SUTT itu perlu dibangun, yang tentu saja tak lain dan tak bukan adalah untuk menjaga keandalan listrik yang berujung meningkatkan pelayanan pada masyarakat terhadap ketersediaan listrik. Tak hanya sampai di situ, Bapak2 tersebut juga menjelaskan pembangunan SUTT tersebut dari segi teknis yang berhubungan dengan safety nya terhadap warga yang nantinya tinggal di sekitar area tower.
Semua berjalan lancar sampai dengan proses negoisasi dimulai. Yang namanya negoisasi tentu saja adalah tawar menawar antara pemilik tanah dengan pembeli. Sebagai pembeli, kami menawar dengan harga A/m2 (sesuai dengan APBN untuk proyek ini) yang tentu saja secara tidak mengejutkan ditolak oleh warga. Mereka menginginkan harga B/m2 (dimana B = A + Rp. 190.000,-). Dan dengan bahasa yang diusahakan sehalus mungkin, Bapak2 dari kantor sy menjelaskan bahwa harga B tersebut tidak bisa disetujui, karena dari APBN nya memang sudah dianggarkan dengan harga A, tak ada alasan yang bisa membuatnya berubah. Warga kembali mencoba bernegosiasi - hal yang membuat saya merasa banyak sekali belajar. Di sini lah suatu forum benar-benar dihormati. Kedua belah pihak saling mengeluarkan pendapat di kepala mereka masing-masing dan keduanya sama-sama saling menghargai. Paling-paling hanya satu dua orang saja yang terkadang protes dengan nada yang agak tinggi, yang di telinga saya lebih terdengar seperti bercanda. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pemimpin rapat (SekCam) yang bagus sekali dalam memimpin forum ini. Beliau berkali-kali menekankan bahwa, kalau warga mau mengeluarkan pendapat maka keluarkan saja di forum, semua pendapat akan dihargai. Sedangkan pendapat yang muncul belakangan di luar forum akan tidak ada harganya sama sekali.
Maka muncullah harga baru dari warga yaitu C/m2 (dimana C = B - Rp. 50.000,-). Dan dengan pendekatan yang lebih baik lagi, kembali Bapak2 dari kantor sy menjelaskan bahwa mereka hanya bisa memberikan harga A. Kali ini ada penjelasan tambahan dari Bapak2 dari kantor sy. Mereka menceritakan satu kasus, pengalaman dari provinsi sebelah, di mana semua pihak yang terkait (warga, aparat desa, kecamatan, dan pegawai BUMN yang bertugas negoisasi) akhirnya dipenjara karena membeli tanah warga dengan harga yang lebih tinggi dari yang dianggarkan. Hal ini dicurigai adanya praktik korupsi dengan menjual tanah melebihi yang dianggarkan di APBN.
Sungguh, sy yakin Bapak2 dari kantor sy bukan bermaksud menakut-nakuti tetapi hanya memberikan gambaran mengapa mereka sama sekali tidak bisa menaikkan harga dari harga A. Dan Alhamdulillah, para warga mau berbesar hati menerima angka A. Dan akhirnya dicapailah kata 'deal' untuk harga jual tanah di kecamatan tersebut sebesar A.
Maka proses negoisasi pun berlanjut ke negoisasi harga ganti rugi untuk tanam tumbuh tumbuhan yang tanahnya nanti akan dibangun tower. Untuk ini Bapak2 dari kantor saya mengacu pada harga ganti rugi yang dikeluarkan oleh DisBun kabupaten setempat. Dan kebetulan tanaman yang banyak tumbuh di daerah tersebut adalah karet. Untuk karet harga ganti ruginya menurut DisBun adalah sebesar X/pohon. Dan warga kali ini merasa keberatan sekali dengan harga tersebut. Menurut mereka harga tersebut sangat jauh dari harga yang pantas. Kebetulan di daerah tersebut juga ada perusahaan yang menambang batu bara. Dan perusahaan tambang tersebut berani mengganti rugi pohon karet yang mereka hancurkan sebesar Y/pohon (dimana Y = X + Rp.525.000,-).
Bapak2 dari kantor saya pun kembali menjelaskan bahwa mereka tak bisa sembarang menaikkan harga kalau tidak ada dasarnya. Dan warga tetap pada harga Y tersebut, sehingga untuk harga ganti rugi tanam tumbuh belum dicapai kata sepakat.
But well.. Ini semua benar-benar melebihi harapan kami. Tadinya kami pikir kami bakalan harus negoisasi lagi (dalam waktu yang dekat) apabila kata sepakat dalam forum tadi tidak dicapai. Tapi kami sungguh bisa tersenyum puas dengan hasil yang bisa dikatakan 'bagus'. Sepertinya warga di kecamatan itu paham benar dengan arti membangun fasilitas untuk kebaikan orang banyak. Sedikit perbedaan pendapat saya kira wajar. Bapak2 dari kantor sy tentu akan mencarikan jalan keluar yang terbaik.
Dari sini sy belajar banyak. Belajar tentang bagaimana sebuah proses negoisasi langsung dengan warga. Belajar tentang bagaimana mendengarkan, mengeluarkan, dan menghargai pendapat orang lain. Dan yang terakhir, sy benar-benar menghargai sebuah profesi. Profesi yang dulunya pernah saya remehkan (mungkin yang saya remehkan adalah orang-orang yang memiliki profesi itu yang terlanjur memberi cap buruk pada profesi yang sebenarnya menjadi cita-cita saya). Ternyata tidak semua dari mereka tidak berdedikasi. Masih banyak dari mereka yang ternyata berkualitas dan sangat berdedikasi.
Dan Alhamdulillah, perjalanan dinas kali ini berjalan lancar. Banyak pelajaran berharga yg bisa sy dapat. :)
06082010 23.09 WITA
Sabtu, 24 Juli 2010
Inception
Tadi siang memutuskan mengisi weekend dengan jalan-jalan ke Banjarmasin atau tepatnya Duta Mall dengan schedulle nonton film di 21. Film yang akan di tonton pun sudah diputuskan yaitu Inception yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio. Ada temen yang bilang kalau Inception ini film yang seru banget, tentang pencuri mimpi dengan efek film yang katanya 'wah' banget. Maka Eclipse (The Twilight Saga)pun akhirnya terkalahkan untuk ditonton.
Jujur, sy ga tau sama sekali film Inception ini bakalan berkisah tentang apa kecuali berbekal dari kata teman saya tadi (teman yang belum nonton film ini juga) bahwa film ini berkisah tentang pencuri mimpi. Ia lah Dom Cobb, seorang pencuri mimpi yang sangat handal menciptakan mimpi lalu masuk ke dalamnya untuk mendapatkan informasi-informasi penting. Untuk itu Cobb bisa menjadi mata-mata yang sangat handal. Dan kemampuan Cobb ini benar-benar dibayar mahal dengan keluarga dan kewarganegaraannya (Cobb tidak dapat kembali ke keluarganya karena telah dituduh membunuh istrinya sendiri).
Sampai pada suatu ketika Cobb mendapatkan tawaran dari Mr. Saito (Ken Watanabe) yang menjanjikan kesempatan untuk bisa mengembalikan kehidupan Cobb dengan syarat Cobb mau dan berhasil melakukan suatu misi. Misi Inception yang jauh lebih sulit dari sekedar mencuri informasi di dalam mimpi. Inception adalah menanam ide di bawah sadar.
Untuk melakukan Inception tersebut, Cobb membutuhkan orang-orang yang ahli dalam berbagai bidang, yaitu arsitek (untuk mendesain labirin dalam mimpi), ahli kimia (untuk meramu obat tidur dengan kekuatan tertentu), ahli meniru orang lain (untuk memerankan berbagai tokoh dalam mimpi yang akan dirancang), dan seorang extractor juga yang sama seperti Cobb.
Maka dengan berbagai usaha, akhirnya terbentuklah tim yang siap melakukan Inception, yaitu Cobb sendiri, Arthur (extarctor), Ariadne (arsitek), Eames (ahli meniru orang lain), Yusuf (ahli kimia), dan Mr. Saito. Lalu, dirancanglah mimpi yang akan ditanamkan ide di dalamnya pada Robert Fischer Jr. (ahli waris dari kerajaan perusahaan besar di Amerika). Mimpi berlapis 3 atau mimpi di dalam mimpi di dalam mimpi. Yang ternyata karena suatu hal di luar perhitungan mereka, mimpi tersebut menjadi berlapis 4.
Berhasilkan Cobb melakukan Inception dan kembali pada keluarganya?? Saksikan sendiri film nya (bagi yang belum nonton). ^^
Film ini adalah film yang cukup rumit, terbukti dari susah (baca: malas)nya saya menceritakan kembali film ini, hehehe... Mungkin karena film ini memang tidak untuk diceritakan, melainkan untuk DITONTON.
Dan saya benar-benar menyukai film ini, film yang bikin sy kagum setengah mati oleh ide ceritanya, oleh efek filmnya, dan oleh akting pemainnya. Pokoknya 4 jempol dah!!!
Dari film ini, saya menjadi teringat kembali dengan film The Matrix, tapi kalau menurut sy sih, film ini 10x lebih baik dari The Matrix. Dan saya suka dengan istilah-istilah dalam film ini, seperti 'inception', 'totem', 'paradoks', 'limbo', 'tendangan', dan lain sebagainya. Sukaaa... :D
Mungkin karena genre film ini juga yang science fiction-action, jadi berasa 'berpikir' nontonnya dan tegang abis dengan aksi tembak-tembakannya. Ga rugi deh nonton film ini... Jadi yg belum ntn, buruan ntn ya... :D

taken from google
Kamis, 22 Juli 2010
rubik sudoku ku
Tadinya mengenal rubik sudoku lewat teman yang nanya: "Ka tau orang jual rubik sudoku ga? Kalau ada, aku pingin beli"
Hmm.. baru tau kalau ada rubik yang tipenya sudoku. Setau saya sudoku itu permainan penjumlahan terdiri dari 9 petak, yang di isi dengan angka-angka. Dan angka-angka itu harus sama jumlahnya apabila dijumlahkan secara horizontal, vertikal, maupun diagonal.
9 petak..
Rubik 3x3 banget tuh..
Hohoho.. pasti kebayang betapa sulitnya menyusun rubik sudoku. :D
Tapi ternyata rubik sudoku nya tidak seperti itu, rubik sudoku cuma angka berurutan saja dari 1 s.d 9 (jadi bukan tentang penjumlahan).
Gampang??
Ternyata tidak sama sekali!!!
Rubik sudoku adalah satu-satunya rubik yang bikin saya hampir MUNTAH ketika mencoba untuk men-solvingnya. Hoekzzz... Asli pusing.. Karena saya menerima rubik sudoku (atau tepatnya menyita alias membajak punya teman.. :D) itu sudah dalam kondisi teracak. Jadi saya benar-benar buta, ni orientasi angkanya mengarah ke mana?? (kalau masih ada yang bilang gampang, mending nyoba sendiri dulu, baru boleh komentar.. ^^v)
Tapiiii...
Dengan usaha yang tidak kenal menyerah akhirnya rubik sudokunya berhasil saya solve malam itu juga (malam di mana rubik sudoku itu saya pegang untuk pertama kalinya). Huaaa.. senang nya..
Setelah rubik sudoku sudah solving, saya jadi ngerti orieantasi arahnya. Jadi ketika mau solving lagi, sudah tidak begitu mengalami kesulitan.
Tapiiiii... (masih ada tapinya), angka 5 yang di centernya ternyata selalu terbolak-balik. Susah banget buat angka 5 nya supaya benar arahnya. Daaannnn.. ada satu catatan kecil (lagi), rubik sudoku saya itu ternyata memiliki kesamaan dengan rubik void (rubik donat), karena warna nya yang putih semua, menyebabkan tak ada warna yang bisa dijadikan sebagai patokan. Hmmm... membuat rubik sudoku terkadang mengalami 2 sudut yang tertukar di layer 3 nya (kalau udah gini, rasanya pingin putus asa aja. Udah pusing nyusun angka sampai layer 2 dan 3, eh pas di layer 3, sudutnya tertukar... T_T. Biasanya sih saya ulang lagi nyusunnya dari layer 2.. hikss..)
Dan laluuuu...
Kemarin saya jalan-jalan ke toko yang katanya ada jual rubik (boleh nih di coba, sapa tau ada rubik yg belum saya punya). Dan dari toko itu, saya memperoleh 2 buah rubik lagi, hee...
Rubik twist uk medium dan rubik sudoku dengan warna (tapi cuma gantungan kunci nya aja sih..)
Hohohoho.. Tanpa pikir panjang langsung beli (padahal lagi ga pegang uang, akhirnya utang dl sama kawan. hahaha :D).
Maka akhirnya rubik2 itu pun mjd milik saya. Terkhusus rubik sudoku, rubiknya ternyata sudah ada yang ngacak :((
Tapi untungnya, rubik sudoku ini berwarna, jadi lebih mudah untuk menyelesaikannya dan oleh sebab itu saya bisa mensolvingnya DENGAN selalu memperhatikan angka 5 (centernya) agar tidak terbolak-balik. Dan saya BERHASILLLL!!! (senangnya.. :D)
Ga mau lagi ah ngacak.. Soalnya susah buat ngembaliinnya. Jadi, kita tinggalkan saja rubik sudokunya di lemari dan kita lanjut ke 3x3 sajaaa...
full PLL menantiii.. >.<
Langganan:
Postingan (Atom)