Selasa, 01 Mei 2012

menyampul buku

Menyampul buku sebenarnya adalah kegiatan yang mudah dan ringan tapi dasar sayanya aja yang (sedikit) pemalas hingga ada saja alasan untuk menunda melakukan kegiatan yang namanya menyampul buku tersebut. Tapi malam ini saya putuskan untuk mengisi waktu luang dengan menyampul buku-buku yang sudah menumpuk minta disampul. Sebenernya sih sedikit banyak, kemauan saya ini muncul karena ada 'pendatang baru' yang baru nyampe ke tangan saya siang tadi.

'Pendatang baru' itu adalah sebuah buku yang berjudul MENIKAH ITU MUDAH karya Ikhsanun Kamil Pratama dan Foezi Citra Cuaca Elmart. Mereka itu sepasang suami istri loh, yang secara resmi meluncurkan buku Menikah Itu Mudah tepat di hari mereka menikah.

Karena baru datang siang tadi, maka sayapun belum tuntas membaca buku tersebut. Tapi kalau dari endorsement yang saya baca, seperti buku ini menjanjikan sesuatu yang sayang untuk dilewatkan :)

Well, kembali ke urusan sampul-menyampul buku, ternyata buku saya yang belum bersampul lumayan banyak juga euy. Ada sekitar 6 buku, yaitu Ayahku (Bukan) Pembohong; Eliana; Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah; Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin; Persekutuan Misterius Benedict; Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2!.

(Penampakan buku-buku saya sebelum disampul)

Maka, setelah membulatkan tekad (lebayyy euy.. :p) sayapun mulai menyampuli buku tersebut satu persatu. Peralatan untuk menyampulipun sudah dipersiapkan. Biar gini-gini, peralatan tulis saya lumayan lengkap loh, jadi kalo cuma gunting, plastik sampul, dan isolasi sih ga masalah lah. Ga percaya? Ini buktinya...


Dan seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, sebenarnya urusan sampul-menyampul buku ini adalah perkara yang gampang. Terbukti dengan berhasilnya saya menyampul satu buah buku dalam waktu kurang lebih sekitar 10 menit. Tapi dasarnya ada aja godaan-godaan, akhirnya urusan sampul-menyampul ini selesai dari jam 7 s.d jam 10. Eitsss.. tapi tunggu dulu. Jangan keburu nge-judge saya lelet atau malas. Tapi di antara waktu itu ada waktu untuk shalat Isya, makan malam, dan bermain dengan keponakan yang tiba-tiba malam ini datang main ke rumah kakeknya :D. Wajar saja kan kalo nyampulin bukunya baru kelar pukul 10? hehehe....
Setelah disampul, buku saya jadi rapi jali, dan yang jelas bakalan lebih awet karena lebih terawat.

(Penampakan buku-buku saya setelah disampul)

Oiya, saya mempunyai kebiasaan unik lho... Saya suka sekali menempelkan sticker bar code harga dari masing-masing buku yang sudah saya beli. Tujuannya apa ya?? Entahlah. Yang jelas saya merasa sayang aja kalo sticker bar code itu dibuang. Jadi setelah dicabut dari plastiknya, saya tempel kembali ke cover buku nya di bagian belakang. Contohnya seperti ini nih...


Dan dari menyampuli buku-buku saya yang belum bersampul, tiba-tiba saya nemu sebuah buku yang masih baru alias belum dibaca a.k.a plastiknya aja belum dibuka, hehehe. Buku itu adalah Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!. Buku ini merupakan pemberian (hadiah ultah) dari temen saya. Waktu dia ngasih, saya pikir dia ngasih buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1!, karena jujur saja saya dulu pernah minta dia nyariin buku tersebut. Dan setelah hampir satu bulan, hadiah itu nongkrong di rak buku saya tanpa pernah dibuka plastiknya (apalagi dibaca), saya baru nyadar kalau ternyata buku tersebut ternyata adalah buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!. Dan saya juga baru nyadar kalau ternyata buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya ini ternyata merupakan trilogi. Parah!!! (maksudnya, saya yang parah, hehehe :D)


Karena belum berniat membaca buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!, maka sayapun memutuskan untuk tidak membuka plastiknya dulu. Nanti saja, kalau saya memang ingin membacanya, sebab buku yang sekarang mengisi 'schedule' baca saya adalah si 'pendatang baru' yang baru datang siang tadi. Dan kalau nanti saya udah kelar bacanya, saya berniat pingin bikin reviewnya. Penasaran??? Tunggu aja ya :)

Bemasakan (part 1)

Hari Sabtu kemarin tepatnya tanggal 28 April 2012, saya mengisi akhir pekan dengan bemasakan (masak rame-rame) di rumah temen saya - Yayuk. Dari malam Sabtu itu, saya udah nginep di rumah Yayuk (kebetulan misua Yayuk lagi dinas ke luar kota, hehehe). Kamipun menyusun 'menu' apa saja yang ingin kami masak esok hari. Nyusun menunya sambil nonton mastercheff junior australia. Haduh-haduh jadi tambah ngiler plus kagum juga sama anak-anak yang jago masak itu. :)

Dan karena kami ini penggemar berat sphagetti, maka kamipun ingin memasak sphagetti untuk menu sarapan. Sebenarnya, kami ingin sekali memasak sphagetti smoke soy seperti di pizza hut itu. Tapi kami ga nemu resepnya. Udah googling-googling tapi ga nemu, bahkan udah tanya sama temen yg dulu pernah kerja di pizza hut, tapi dia juga ga tau resep sphagetti smoke soy apaan. Akhirnya kami memutuskan memasak sphagetti seafood saja (seperti resep yang kami temukan dari hasil googling). Tapi bahan seafoodnya kami ganti dengan ayam, dan aksesoris berupa jamur-jamuran sengaja kami hilangkan karena Yayuk alergi sama yang namanya jamur.

Untuk menu makan siang kami berencana memasak aneka masakan, huhuhu.. Entah karena kemaruk atau karena selera yang berbeda-beda, kami akhirnya memutuskan memasak bermacam masakan, padahal yang makan rencananya cuma 4 orang (saya, Yayuk, Lidya (temen kantor saya juga) dan suaminya), hehehe. Resep yang kami masak terhitung masih masakan sederhana dengan bahan yang mudah didapat. Masakan itu adalah cumi cabe garam, oseng usus ayam, capcay, kacang panjang ala thailand, dan menu wajib tempe goreng. Sedangkan untuk cuci mulutnya, kami memutuskan membuat milk coconut puding (puding santan) with fla dan cilok. Hoho.. bener-bener pelampiasan sepertinya, hahaha...

******************************************

Esok paginya saya dan Yayuk pergi ke pasar. Beli ayam, beli cumi, beli tempe, sayur mayur, bumbu, dan bahan-bahan untuk membuat pudding. Tapi sesampainya di pasar, saya malah pingin beli lele. Ngiler banget liat lele di pasar pada gede-gede. Kayaknya enak banget dimakan buat makan siang. Alhasil, saya memutuskan membeli satu ekor lele dengan ukuran yang lumayan besar. Tapi pas mau bayar, penjualnya ga mau dibayar alias gratis gituu.. Huhuhu jadi ga enak (sebenernya sih malah jadi enak, hehehe). Soalnya yang jualan temen Yayuk waktu sekolah dulu, ahaha, ada-ada aja ya?! Tapi alhamdulliah yach dapet lele gratis, besar pula :D

Sepulang dari pasar, kami langsung mengeksekusi sphagetti. Udah laper berat euy.. Dengan berbekal resep yang ada, ternyata sphagettinya maknyusss banget. Langsung tandas seketika dimakan sama 4 orang (saya, Yayuk, Lidya, dan Eyil - anak Lidya yang masih umur 2 tahun). Saya coba menuliskan resepnya kembali sesuai dengan yang kami masak kemarin ya. Berikut adalah resep sphagetti gorengnya:

SPHAGETTI GORENG

Bahan:
1) 1 pak sphagetti La Fonte
2) Minyak goreng
3) Ayam yang dipotong dadu (banyaknya sesuai selera aja)
4) Sawi putih (banyaknya sesuai selera juga)
5) 1 buah bawang bombay
6) 4 siung bawang putih yang diiris lalu digoreng, setelah digoreng dihancurkan agak kasar.
7) 1/2 sdm minyak wijen
8) 1/2 sdt garam
9) 1 sdt lada

Cara membuat:
1) Rebus sphagetti di dalam 1 ltr air mendidih, tambahkan sedikit garam dan 2 sdm minyak goreng. Rebus 7 s.d 9 menit sampai shagetti matang al dente. Angkat, tiriskan, dan sisihkan.
2) Panaskan sedikit minyak goreng, masukkan bawang bombay, tumis hingga layu dan wangi
3) Masukkan potongan ayam, masak sampai ayam berubah warna
4) Masukkan sawi putih, bawang putih goreng yang telah dihancurkan agak kasar, minyak wijen, garam dan lada
5) Masukkan sphagetti, aduk sampai semua bumbu merata
6) Sajikan untuk 3 s.d 4 porsi

Waaa.. bener-bener maknyuss loh. Kuncinya di minyak wijennya itu, yang ngasih rasa yang beda di sphagettinya. Tapi ngasihnya jangan banyak-banyak, karena rasanya dijamin bakalan aneh, hehehe.. Tapi sayang banget, kemarin waktu udah selesai masak sphagettinya, si sphagetti lupa di foto. Hikss.. Saking lapernya kali ya :D

Setelah selesai memasak dan menyantap sphagetti, kamipun memiliki tenaga untuk mulai memasak lagi. Karena yang dimasak lumayan banyak. Maka kamipun bagi-bagi tugas. Tapi intinya, masaknya tetap rame-rame. Dan setelah berkutat kurang lebih 3 jam di dapur, semua menu pun akhirnya berhasil dimasak dengan baik. Hanya cilok saja yang hampir aja gagal buat dimasak. Soalnya di resepnya dicantumkan 400ml air untuk adonannya. Dengan pedenya saya langsung menuangkan semua air (400 ml) ke dalam adonan tepung yang menghasilkan adonan yang enceeeerrrrrr banget. Kayaknya yang nulis resep, salah nulis resep. Pengalaman deh... Kalau memasak ngikutin resep dari orang, sebaiknya jangan 100% mengikuti resep yang tertera. Intinya tetap gunakan logika sendiri. Kira-kira seperti itu, hehehe..

Berikut adalah foto-foto hasil masakan kami kemarin. Untuk resepnya, emmm.. sebenernya ga rahasia sih, tapi agak sedikit males aja ngetiknya. Kalau ada yang berminat, mungkin lain waktu bisa saya tuliskan resepnya :D

CAPCAY CERIA







CUMI CABE GARAM




TUMIS KACANG PANJANG ALA THAILAND




OSENG USUS AYAM



SAMBAL PENYET MAKNYUSS



MILK COCONUT PUDDING WITH FLA





CILOK




Entah karena cuaca yang panas atau karena nafsu untuk makan makanan enak meningkat drastis, tiba-tiba Yayuk memutuskan untuk membuat es buah dengan bahan-bahan yang ada di dalam kulkas, yaitu sekaleng cocktail kalengan. Suami Lidya pun disuruh beli sirup merah khas Banjar buat jadi pelengkap si es buah. Dan semangkuk besar es buah pun siap untuk dinikmati :D


ES COCKTAIL SIRUP MERAH BANJAR



Dan inilah menu-menu yang telah siap di meja makan (sebagian masih dalam proses dimasak :D)


Mari makan... ^_^

Jumat, 27 April 2012

Gara-Gara Padam Listrik :(

Dari tanggal 17 sampai dengan 24 April 2012 kemarin (awalnya cuma 1 minggu tapi diperpanjang 1 hari karena pekerjaan di lapangan belum selesai)saya kembali dinas mengawas. Tepatnya mengawas pengecoran pondasi T.01A SUTT AA-BL. Towernya tower multi jadi pondasi yang dicor pun memiliki dimensi yang lumayan besar yaitu 5,8 x 5,8 x 0,75 = 25,23 m3 untuk masing2 pad. Total ada 4 pad, jadi 100,92 m3, belum termasuk beam dan chimney nya, fiuhhhh...


Waktu ngecor pad yang pertama, ngawasnya mpe malam, karena pengecoran baru bisa dilakukan siang hari (kurang lebih jam setengah dua siang). Gara-gara ada acara peresmian di PLTU yang ngundang pak Gubernur buat meresmikan unit 3, akhirnya kami ga boleh kerja ngecor dari pagi sampai siang. Ujung-ujungnya ngecor sampai malam, capekkk...

Akhirnya jera ngecor pad kalau dimulai terlalu siang, karena pengecoran bisa berlangsung mpe 8 jam. Untuk pad selanjutnya, saya selalu minta agar dipersiapkan untuk bisa dicor pagi. Intinya pekerjaan cor lancar, kecuali menjelang hari terakhir ngawas, tiba2 semen T*N*S* nya habis (selama ini memang selalu memakai semen T*N*S* sesuai dengan laporan mix design yang disampaikan sebelumnya). Sebenarnya pelaksana minta agar semen diganti saja dengan semen T*** R***, karena semen T*N*S* memang susah didapat di dekat lokasi proyek. Tapi karena masih bisa mendatangkan semen T*N*S* dari ibukota provinsi, sayapun memilih menunggu saja, toh cuma nunggu 1 hari. Tapi saya juga penasaran, apa boleh mencampur 2 jenis semen dalam satu pekerjaan?? Saya khawatir aja, karena ga da laporan hasil test sebelumnya. Sayapun menelpon kenalan saya di laboratorium sebuah perusahaan penyedia ready mix beton. Dari info beliau, dan menurut hemat beliau, sebenarnya tak apa mencampur 2 jenis semen dalam satu pekerjaan karena pada dasarnya semen itu sama. Hmmm.. saya jelas ga bisa begitu saja berpegangan pada kata2 kenalan saya tersebut tanpa ada uji cobanya. Tapi cukup sebagai masukan saya saja. Kapan-kapan jadi pingin melakukan uji coba mencampur dua merk semen, dan melihat hasil betonnya.. :D

Setelah 8 hari, akhirnya pondasi T.01A kelar juga dicor. Tinggal nunggu umur betonnya 14 hari buat bisa di erection. :)

Dan seperti biasanya, selalu ada pengalaman unik ketika mengawas. Kali ini kejadian yg lucu dan ga begitu mengenakkan sih... Tepatnya kejadian pas saya habis ngawas ngecor mpe malam. Pulang ke mess, bawaannya pingin mandi. Eh pas lagi asyik mandi, tiba2 listrik padam. Alamak... Mau keluar kamar mandi ga bisa, di messnya nya kan banyak cowok. Mau tetap di kamar mandi, gelapnya minta ampun. Hiksss... Akhirnya berusaha bertahan aja di dalam kamar mandi sambil berusaha meraba2, mana sabun, mana ember, mana gayung, mana air.. hikss hiksss.. T_T

Tapi beberapa menit kemudian ada temen yg naroh lampu emergency di depan pintu kamar mandi, jadi ada sedikit cahaya yang masuk ke dalam kamar mandi. Jadi saya bisa liat sedikit2, mana sabun, mana air. Alhamdulillah mandinya tuntas. :D
Jadi pengalaman deh, besok2nya kalau mandi malam lagi, ga lupa bawa senter kecil atau hape yg ada senternya. Tapi tetap berharap, ga usah padam listrik ja, menyusahkan euy.. :D

Kamis, 26 April 2012

Pengalamanku sebagai seorang pengawas wanita

Sudah lama pingin nulisin ini. Jadi ga sabaran n malah jadi bingung mau mulai dari mana. :D
Baiklah, kita mulai saja dengan bismillah, inilah cerita pengalaman, suka dan duka ketika mengawas pekerjaan proyek selama hampir 4 tahun.

Pertama kali saya ngawas itu, tepatnya kapan ya?? lupaa.. kalau ga salah sih, ngawas pembangunan GI Kayutangi. Culun banget, ga begitu ngerti apa yang musti dilakuin. Alhasil malah jadi belajar di lapangan alih-alih ngawas. Waktu itu ngawasnya cuma 1 minggu aja. Tidurnya di mess di handil bakti, di perumahan gitu. Rumahnya suka goyang kalau ada mobil truk lewat, hehehehe...

Setelah ngawas GI Kayutangi, kemudian dipercaya ngawas (extension) GI Mantuil. Masih tetap dengan 'proses belajar' tapi udah mulai ngerti item2 apa ja yang mesti diperhatiin atau diawasin. Ngawasnya juga cuma 1 minggu dan karena lokasi yang bisa dibilang tidak begitu jauh namun juga tidak begitu dekat, saya ngawasnya PP saja alias tetap tidur di rumah (ga nginap di mess). Waktu ngawas di GI Mantuil ini, ada pengalaman unik. Ada salah satu pekerja (buruh) yang naksir saya. Pas saya mau selesai dinas, dia tiba2 minta maaf karena suka perhatiin saya. Haduh2, jujur saya bawaannya takut aja. Tapi sy tetap menghargai org tersebut dengan tidak bersikap kasar sama dia. Pengalaman yang aneh ya?? hehe

Kemudian, saya mulai ditugaskan mengawas tower SUTT. Berbeda dengan Gardu Induk atau GI, tower SUTT mengharuskan saya untuk mengawas di tempat2 terpencil, seperti di tengah hutan, rawa, sawah, kebun, area tambak, dsb. Awal mula ngawas SUTT itu di daerah Pelaihari. Berhubung saya seorang wanita, ManPro sengaja menempatkan saya di section yang dianggap paling gampang. Tepatnya di section 8 SUTT AA-M. Lokasinya banyak yang berada di kebun sawit dan sawah. Ga terlalu ekstrim lah. Waktu mengawas di section 8 tersebut, saya tidur di mess di daerah Pabahanan, Pelaihari. Ketika itu, saya satu-satunya pengawas wanita, yang lain laki2 semuanya. Tekanan batin banget, tapi saya berusaha menjalaninya sambil berpositive thinking. Tapi orang lain belum tentu berpositive thinking sampai akhirnya saya ditegur oleh ibu pemilik rumah yang rumahnya kami jadikan mess. Sedih banget... Saya mpe nangis waktu itu tapi nangisnya ga di depan ibu itu. Temen2 saya yang di mess pada bingung. Bingung ngebujuk juga, sampai2 ada yg ngebujuk saya pake eskrim, hihihi, emangnya saya anak kecil?? Hmmm.. Tapi hikmah setelah kejadian itu, AsMan Teknik akhirnya memutuskan untuk tidak menurunkan saya ke lapangan sampai dengan waktu tertentu :D.
Tower yang pertama kali saya awasi di section 8, adalah T.283. Dan sekarang udh berdiri dengan gagahnya seperti di gambar berikut:
T.183 SUTT 150 kV AA-M


Tapi, selama mengawas di section 8, banyak pengalaman unik yang saya alami, di antaranya saya pernah hampir kehilangan lidah saya karena kegigit akibat saya terlalu lapar. Pernah juga saya ngawas memakai jilbab (langsung) terbalik (bagian dalam di luar dan sebaliknya). Karena buru2 dan ga sempat ngaca waktu mau berangkat ngawas. Pas nyadar, rasanya maluuuu banget sama kontraktor pelaksananya. Huhuhu :(
Setelah section 8 selesai, saya mulai mengawas di section 9 dan 11. Di section 11 ini lokasinya di sawah semua. Jadi tiap hari keluar masuk sawah. Berjemur di bawah matahari bareng sama petani. Jadi semakin menghargai pekerjaan petani. Di section 11 ini saya sempat sakit karena kecapekan. PP naik motor MegaPro sama temen tiap hari dan ga pake jaket pula. Kadang pulangnya kemalaman. Alhasil masuk angin n muntah2 di penghujung dinas. T_T

Setelah SUTT AA-M selesai, proyek yang lain sudah menanti untuk diawasi yaitu SUTT AA-BL. Dan sayapun kembali mengawas. Awalnya di section 4 dan section 5. Kadang mpe setengah bulan dinas ngawasnya. Tidurnya di mess Pagatan dan karena mengawas di daerah Pagatan, tahun kemarin saya beruntung banget bisa nyaksiin Pesta Pantai (pesta tahunan di Pantai Pagatan), yang selalu diadakan di bulan April. Pantai pagatan cantik banget di bulan April.. :)
Suatu pagi di Pantai Pagatan


Di section 4 dan 5 SUTT AA-BL ini lokasi towernya lebih susah. Ada yang di tengah rawa, bahkan ada yang hanya bisa dicapai dengan naik jukung (kapal kecil dengan mesin). Padahal saya ga bisa berenang, jadi diberani2kan saja naik jukungnya :(
Waktu ngawas di T.260 (lokasi bekas tambak), untuk pertama kalinya dalam sejarah saya mengawas, akhirnya saya ngawas ngecornya mpe malam, tepatnya jam 12 malam, soalnya kondisi yang mengharuskan pondasi tersebut harus segera dicor, dikarenakan tanahnya yang rawan longsor.
T.260 SUTT 150 kV AA-BL dicor malam karena kondisi tanah yang rawan longsor


Waktu ngawas di T.254, jalan menuju lokasinya parah mampus. Ga bisa ditempuh pke motor. Jadi musti jalan kaki mayan jauh, jalan nya muter n meniti gitu. Dan ketika udah ga bisa meniti, otomatis harus jalan di tengah2 tambak dengan air setinggi paha. Lokasinya pokoknya parah parah parah.
T.254 SUTT 150 kV AA-BL, kondisi tanahnya yang parah


Waktu ngawas di T.245, saya minta sama surveyornya supaya saya diijinin setting stub untuk pertama kalinya. Sambil sedikit dibantu dan dikasih arahan sama surveyornya, akhirnya saya berhasil setting stub!!! Senengnya... berasa keren dah, hehehe... Dan sekarang T.245 udah berdiri dengan gagahnya. Sayangnya sy ga moto T.245 itu.. huhuhu..


Pas ngawas di T.203, saya musti pake jukung buat nyebrang sungai biar bisa nyampe ke titik towernya. Di sungainya ada buaya muaranya. Untungnya saya ga ketemu sama tu buaya. Tapi ketemunya sama ular phyton. Saya ga berani foto sama ularnya. Tapi si bapak pelaksana berani, trus saya yang motoin, hehehe..
Ularnya nakutin, hiiiyyy :D
Waktu ngawas di T.203 ini, saya kebelet banget pingin pipis. Tapi karena lokasi yang jauh dari mana-mana, akhirnya saya pipis di bangunan bekas sawmill ga kepake. hikss hikss.. sengsara banget ya?? T_T

Setelah section 4 dan 5 rampung, saya kembali mengawas di section 1, 2, dan 3. Untuk ketiga section ini, lokasinya kebanyakan berada di kebun sawit dan di area tambang. Paling males ngawas kalo lokasinya kena di area tambang. Panas dan debunya itu yang bikin menderita banget, hikss...
Waktu pertama kali ngawas di section 1 tepatnya di T.66, saya langsung dapet pengalaman yang tidak mengenakkan. Si mandor lagi emosi karena ga terima pekerja2nya disuruh lansir material. Saking esmosinya, mandor itu mpe nebas2in parang (golok) ke terpal buat tampungan air. Saya jadi lumayan shock waktu itu. Untungnya ga sampai kenapa2 sayanya, cuma jadi sedikit trauma aja.
Tapi waktu kembali berkesempatan ngawas di section 1 lagi, saya diajak jalan2 ke pantai kintap. Menghibur diri setelah jenuh mengawas. Pantainya ini merupakan pelabuhan batubara juga loh.. :D
di suatu pantai di kintap ;D

Kalau ngawas di section 2, yang ada saya nya yang emosi. Soalnya pelaksananya susah banget dikasih tau. Pekerjanya juga banyak yang ga becus ngerjain pondasi tower. Capeee deeehhh.. :(

Nah kalo di section 3 sih biasa2 aja, tapi tidurnya yang agak ga biasa. Kalau ngawas di section 3, saya tidur di mess di desa Al Kautsar. Mess nya sih lumayan besar. Rumah dengan 4 kamar, tapi hanya 2 kamar yang bisa dipakai karena 2 kamar lainnya dijadiin gudang. Rumahnya ga da plafondnya, saya pernah kejatuhan cicak, hikss...


***************************************************************************


Banyak cerita, banyak suka, tawa, duka, air mata ketika mengawas. Banyak pengalaman unik yang saya dapat yang sebagian masih saya ingat dan sebagian lagi mungkin terlupakan. Oiya, mungkin kalian bertanya2, bagaimana penampilan saya kalau lagi mengawas. Berikut beberapa foto saya ketika mengawas :D


Musti pake jaket dan slayer. Kalau sepatu sih nyesuaiin aja. Kalo lokasinya becek berair pake sepatu boot. Kalo lokasinya kering pake sepatu safety. Dan kalau kelewat kering alias lokasinya cuma kebun atau halaman rumah orang, biasanya milih pke sepatu sendal aja, hehehe...


***************************************************************************


Sampai dengan sekarang, section 1, 2, dan 3 masih berjalan alias belum rampung. Dan 2 hari yang lalu saya baru saja selesai mengawas di section 1 (T.01A). Tower multi. Volume pad nya saja lebih dari 23 m3. Mpe mabok saya ngawasinnya, udah harinya puanassss banget, bikin sakit kepala dan yang jelas bikin kulit jadi gosong. Dan lagi2, ada saja pengalaman unik yg saya dapat ketika mengawas. Mau tau?? Baca postingan berikutnya ya.. :)

Mukadimah Catatan (wanita) Pengawas

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin menuliskan pengalaman-pengalaman ketika mengawas proyek di dalam sebuah blog. Apalagi ketika banyak kejadian yang rasanya sayang apabila tidak dituliskan. Tapi akhirnya, baru sekarang niat tersebut terealisasikan.


Singkat cerita, saya ini dari tahun 2008 sampai dengan sekarang memang bekerja di proyek yang membangun sarana ketenagalistrikan, tepatnya sebagai tenaga teknik (admin merangkap pengawas). Mungkin tak ada yang spesial dari profesi saya ini, tapi kalau dipikir-pikir lagi, tiap profesi pastilah istimewa, dengan keunikannya masing-masing. Apalagi kalau pekerjaan tersebut biasa dikerjakan oleh laki-laki dan sekarang saya sebagai seorang wanita, justru mengerjakan pekerjaan (yang biasanya dikerjakan) laki-laki, tersebut.


Dan layaknya pengawas pada umumnya, pastilah memiliki catatan harian, walaupun saya termasuk orang yang malas sekali membuat yang namanya catatan harian. Tapi kesini-sininya saya merasa perlu untuk menuliskan catatan harian tersebut. Di samping sebagai sarana pengingat akan kegiatan pekerjaan saya (jujur saya termasuk orang yang sedikit pelupa), juga sebagai sarana saya untuk menyalurkan uneg-uneg, berbagi pengalaman dan syukur-syukur bisa dipetik hal-hal yang bermanfaat dari catatan harian saya ini.


Banyak cerita ketika mengawas. Sudah hampir 4 tahun lebih saya menjalani profesi ini sampai dengan sekarang. Ada tawa, air mata, bahkan darah di dalamnya. Ada pengorbanan dan tentu saja rejeki yang saya peroleh di sana. Terkadang saya berfikir, koq saya bisa ya menjadi seorang pengawas? Bekerja di bidang yang benar-benar ‘teknik’ (sesuai dengan disiplin ilmu yang saya miliki: Teknik Sipil)? Padahal dulu sebelum lulus kuliah saya mati-matian berharap agar nantinya mendapatkan pekerjaan yang jauh dari disiplin ilmu saya. Bagaimanalah? Saya merasa SalJu alias salah jurusan semasa kuliah dulu. Tapi karena berbagai alasan, kuliah tetap saya lanjutkan sampai akhirnya saya berhasil lulus. Dan ternyata takdir saya berjalan ke arah yang berlawanan dengan harapan saya. Saya menjadi seorang pengawas! Saya jadi ingat dengan tokoh Ikal di novelnya Andrea Hirata: Laskar Pelangi, yang konon menceritakan bahwa Ikal membenci profesi tukang pos (saya lupa alasan kenapa ikal membenci profesi tersebut). Tapi ternyata, Ikal malah menjadi tukang pos sungguhan. Ironi. Sama seperti saya…


Entah sampai kapan saya akan bertahan di profesi ini. Karena ada hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani saya, namun ada juga hal yang membuat saya belum bisa meninggalkan profesi ini. Sebelum saya menjelaskan kenapa profesi ini sering menyebabkan perang di hati nurani saya dan kenapa sampai dengan sekarang saya belum memutuskan untuk meninggalkan profesi ini, ada baiknya saya menjelaskan terlebih dahulu sedikit detail tentang pekerjaan saya.


Pekerjaan saya, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya adalah seorang pengawas atau bahasa kerennya: supervisor. Tapi saya lebih suka menggunakan istilah ‘pengawas’. Pengawas yang bekerja di perusahaan listrik milik negara sebagai tenaga kontrak. Yang tugasnya mengawasi pekerjaan konstruksi yang berhubungan dengan sarana ketenagalistrikan. Sebut saja Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), Gardu Induk (GI), dan bangunan lainnya semisal gedung SCADA dan perumahan operator.


Yang namanya pengawas, tentulah tugasnya mengawasi pekerjaan konstruksi tersebut mengacu pada teori BMW (tepat Biaya, Mutu, dan Waktu). Senjata seorang pengawas adalah buku kontrak (spek teknik) dan gambar teknik. Sedangkan kelengkapan untuk mengawas, banyak. Tergantung pekerjaan apa yang mau diawasi. Selama ini, saya lebih banyak mengawasi pekerjaan SUTT. Tepatnya pembangunan pondasi dari SUTT (tower listrik) 150 kV. Tower-tower tersebut terkadang lokasinya nun jauh dari keramaian kota. Karena memang direncanakan seperti itu. Bahkan disewa sebuah jasa konsultan untuk menentukan jalur SUTT tersebut agar seminimal mungkin menyentuh ramainya kota dan tentu saja diusahakan berjalur lurus (sesedikit mungkin terdapat belokan jalur SUTT).


Karena jauh dari keramaian kota tersebut maka saya sering bepergian sendiri ke lokasi titik tower tersebut. Sendirian lah saya seorang ‘wanita’ di antara para laki-laki pelaksana pekerjaan (kontraktor). Ini hal yang sering membuat perang batin tersebut. Tapi saya mencoba positive thinking, pekerjaan saya ini adalah untuk kesejahteraan orang banyak. Dari situ saya berfikir, mudah-mudahan pekerjaan ini menjadi ladang amal saya. Sisanya saya serahkan sama Allah saja. :D


Dari seringnya mengawas ke lapangan tadi (ke hutan, ke rawa, ke kebun, ke lokasi tambang, ke tambak, dsb) maka muncullah banyak cerita yang sekarang menjadi kenangan tersendiri buat saya.
Harusnya sudah sejak dulu saya menuliskan cerita ini, tapi apa mau dikata, baru sekarang ada keinginan untuk menuliskannya seperti ini. Oleh karena itu, untuk cerita yang dulu-dulu, mungkin akan saya rangkum jadi satu di sebuah tulisan berikutnya yang saya beri judul “Pengalamanku sebagai seorang pengawas wanita”. Kejadian-kejadian yang dulu sangat berkesan. Mengingatnya saja sering membuat saya senyum-senyum sendiri, membuat saya banyak bersyukur karena diberikan kesempatan mengalami pengalaman-pengalaman tersebut yang walaupun terkadang berat, tapi sungguh saya sangat bersyukur ketika melewatinya dengan baik dan tetap dengan rasa syukur itu tadi.


Dan untuk ke depannya, saya ingin dan saya berencana untuk selalu menuliskan catatan harian saya sebagai seorang pengawas. Dengan begitu saya berharap blog saya dapat terus saya update dan menjadi catatan tersendiri buat saya. Well, anggap saja ini proyek pribadi saya, diary saya sebagai seorang pengawas (wanita). Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa dipetik oleh orang lain yang membacanya. Amin.